12 Jenis Primata Tersebar di Empat Pulau Indonesia Terancam Punah 
Sabtu, 31-01-2026 - 19:12:20 WIB
TERKAIT:
   
 

Berkabarnews.com, Pekanbaru -  Mammal Diversity Database tahun 2025 menyebut, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman jenis primata tertinggi di dunia, memiliki 66 jenis atau setara dengan 12,8% dari primata yang ada di dunia. Primata ini tersebar di empat pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.

Sayangnya, menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN Red List), dari 66 jenis primata Indonesia, terdapat 12 jenis berstatus Critically Endangered atau kritis, 25 jenis berstatus Endangered (terancam), 26 jenis berstatus Vulnerable (rentan), satu jenis berstatus Near Threatened (hampir terancam) dan dua jenis masih Data Deficient (informasi kurang). 

Selain itu, berdasarkan status perdagangan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), sebagian besar primata Indonesia masuk ke dalam kategori Appendix I dan Appendix II.

Appendix I merupakan daftar yang berisi nama-nama spesies satwa atau tumbuhan yang terancam punah yang haram untuk diperdagangkan, kecuali untuk keperluan terbatas (misalnya penelitian). Sementara itu, Appendix II memuat semua spesies yang tidak terancam punah, boleh diperdagangkan namun dengan pengaturan yang ketat agar tidak dieksploitasi berlebihan.

Berdasarkan status perlindungannya, di Indonesia terdapat 37 jenis primata masuk dalam daftar satwa yang dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018.

Menurut Laporan Primates in Peril periode tahun 2023–2025 yang dipublikasikan oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild baru-baru ini, terdapat empat jenis primata Indonesia yang masuk dalam kategori kritis atau sangat terancam kepunahan di dunia.

Empat jenis itu adalah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), owa simakobu (Simias concolor), lutung sentarum (Presbytis chrysomelas), dan tarsius sangihe (Tarsius sangirensis). 

Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies kera besar yang telah dipisahkan dari orangutan sumatera (Pongo abelii) pada akhir tahun 2017 lalu.

Menurut Daftar Merah IUCN, orangutan tapanuli berstatus Critically Endangered (kritis) karena habitatnya terbatas hanya di Hutan Batangtoru, Tapanuli Selatan di Sumatera Utara. 

Selain itu, berdasarkan CITES, orangutan tapanuli masuk ke dalam kategori Appendix I dan merupakan satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Berdasarkan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Pemerintah Indonesia 2019-2029, populasi orangutan tapanuli diperkirakan berjumlah hanya 577-760 individu. 

Orangutan tapanuli hanya dapat dijumpai di Hutan Batang Toru yang meliputi tiga kabupaten, yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. 

Kemudian Simakobu (Simias concolor), primata endemik Kepulauan Mentawai yang tersebar di empat pulau utama, yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Simakobu memiliki dua subjenis, yaitu Simias concolor concolor yang tersebar di Pulau Sipora, Pagai, dan pulau kecil sekitarnya, sedangkan Simias concolor siberu yang hanya ada di Pulau Siberut. Menurut IUCN, Simakobu masuk ke dalam kategori Critically Endangered (Kritis) dan masuk ke dalam kategori Appendix I berdasarkan CITES, serta termasuk satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. 

Populasinya menurun drastis hingga 75% sejak 1980 dan kini hanya tersisa berkisar 6.700–17.300 individu. Penurunan populasi mereka akibat deforestasi, degradasi habitat dan perburuan.
Lutung sentarum (Presbytis chrysomelas).

Lutung sentarum (Presbytis chrysomelas) merupakan primata dari kelompok monyet daun (Colobinae) yang dulunya tersebar luas di barat laut Borneo, namun kini hanya ditemukan di sekitar 5% dari sebaran historisnya. 

Habitat utamanya berada di dataran rendah, hutan rawa, gambut, dan mangrove. Lutung ini awalnya dianggap sebagai subjenis dari kokah (Presbytis femoralis) atau simpai (Presbytis melalophos), namun kini ditetapkan sebagai jenis tersendiri. 

Lutung sentarum terdiri dari dua subjenis, yaitu Presbytis chrysomelas chrysomelas dan Presbytis chrysomelas cruciger, yang dibedakan berdasarkan sebaran dan pola warna tubuh. 

Lutung ini hidup berkelompok kecil, bersifat diurnal, memakan dedaunan, dan lebih sering beraktivitas di pohon pada ketinggian 4–20 meter. Saat ini populasinya hanya sekitar 200–500 individu. 

Awalnya hanya diketahui di Sarawak, tetapi keberadaannya ditemukan di Taman Nasional Danau Sentarum pada 2019. Menurut IUCN, lutung sentarum masuk ke dalam status Critically Endangered (kritis), namun sayangnya belum masuk daftar satwa dilindungi Indonesia.

Lalu Tarsius sangihe adalah primata kecil yang hanya hidup di Pulau Sangihe, yang merupakan satu dari 12 jenis tarsius yang ada di dunia. Sebagai primata nokturnal karnivora, primata unik ini memangsa serangga dan menunjukkan morfologi khas seperti mata besar, ekor panjang, dan kemampuan memutar kepala hampir 180°. 

Saat ini, populasinya diperkirakan hanya sekitar 464 individu. Mereka dikategorikan sebagai Endangered (terancam) oleh IUCN dan termasuk satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan, primata memainkan peranan penting dalam sebuah ekosistem, sebagai agen penyebar biji (seed disperser) utama yang memastikan berlangsungnya regenerasi dan menjaga keragaman spesies di hutan hujan tropis, serta keberadaannya dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem.

Melalui pola makan frugivora, mereka menanam kembali hutan secara alami, mengendalikan populasi serangga, dan menunjang siklus hara tanah. 

Lebih lanjut, Dolly, menjelaskan saat ini keberadaan primata di Indonesia menghadapi ancaman serius yang mengarah pada kepunahan, terutama akibat deforestasi masif, konversi lahan, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Fragmentasi hutan mengisolasi populasi, sementara konflik manusia-primata meningkat karena berkurangnya ruang hidup.

Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai inisiatif untuk mewujudkan pelestarian primata dan habitatnya di Indonesia, seperti patroli perlindungan habitat, pusat rehabilitasi dan pelepasliaran, serta penyadartahuan dan edukasi.

“Oleh karena itu, peringatan Hari Primata Indonesia dapat menjadi momentum penting guna mendorong kolaborasi multipihak dengan konsep pentahelix untuk mendukung program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di Indonesia. Konsep tersebut menggabungkan peran akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media," katanya. 

"Dengan melibatkan berbagai pihak, konsep pentahelix dapat digunakan untuk mencari pendekatan inovatif dan efektif guna meningkatkan pengembangan dan implementasi program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di Indonesia. Tentu saja butuh koordinasi yang baik, juga komitmen tinggi, dari berbagai pihak sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing,” ujar Dolly.

Hari Primata Indonesia yang diperingati setiap 30 Januari yang diinisiasi oleh PROFAUNA sebagai bentuk keprihatinan terhadap aktivitas perdagangan dan perburuan primata yang semakin tinggi. 

Peringatan Hari Primata dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga dan komunitas pemerhati satwa yang bertujuan untuk memberikan penyadartahuan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga primata Indonesia di habitat alaminya.**/ril

 




 
Berita Lainnya :
  • 12 Jenis Primata Tersebar di Empat Pulau Indonesia Terancam Punah 
  •  
    Komentar Anda :

     
    PILIHAN +
    #1 BNPT: Mengubah Pancasila Berarti Membubarkan Bangsa Indonesia
    #2 Let's Graze with Cows at Padang Mangateh
    #3 JualBuy.com, Startup Asli Anak Riau Resmi Diluncurkan
    #4 Airlangga Hartanto Serahkan SK Pada Adi Sukemi untuk Maju di Pilkada Pelalawan
    #5 Polda Riau Selidiki Uang BLT Covid-19 yang Diselewengkan
     

     

    Quick Links

     
    + Home
    + Redaksi
    + Disclaimer
    + Pedoman Berita Siber
    + Tentang Kami
    + Info Iklan
     

    Kanal

     
    + Nasional
    + Politik
    + Ekonomi
    + Daerah
    + Hukrim
     
     

     

     
    + Internasional
    + Lifestyle
    + Budaya
    + Indeks Berita
     
     
    © 2020-2025 berkabarnews.com, all rights reserved